Jangan Hanya Jadi Masyarakat Penonton

Sunday, 12 December 2010

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/369482/

Hasil riset Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya awal 2010 lalu menunjukkan rendahnya tingkat baca masyarakat Indonesia yang hanya sebesar 22 %.

Sementara di Surabaya sedikit lebih baik sebesar 26%.Sebanyak 54% warga mengaku membaca buku kurang dari tiga buah dalam sebulan. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Karena tingkat baca akan berjalan lurus dengan kecerdasan masyarakat.Dan itu berpengaruh besar terhadap pembangunan sebuah bangsa itu sendiri. Karenanya, dibutuhkan langkah nyata untuk mengatasi kondisi ini. Hasil riset juga menunjukkan bahwa waktu untuk menonton televisi lebih banyak dibandingkan untuk membaca. Karenanya, tanpa disadari, masyarakat Indonesia menjadi masyarakat penonton yang tidak produktif. Tak hanya orang dewasa, anakanak juga lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi.

Tingginya waktu yang dihabiskan di depan televisi menyebabkan orang kurang bisa mengasah kreativitas untuk berkarya, dan cenderung menjadi pemalas. Apalagi, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, kini tidak hanya televisi, masyarakat juga lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bergumul dengan teknologi informasi dan komunikasi seperti telepon seluler dan internet. Tidak sedikit orang lebih betah menghabiskan waktu berjamjam untuk sekadar bermain Facebook maupun Twitter, dan mengurangi tingkat baca. Namun untuk meningkatkan minat baca memang tidak semudah membalik telapak tangan.

Layaknya menanam benih pepohonan, dibutuhkan kerja keras selama bertahuntahun. ”Karena kurangnya minat baca ini disinyalir bermula dari kesalahan pendidikan sejak usia dini, maka untuk merubahnya pun harus ditumbuhkan sejak kecil,” papar Pendiri Gerakan Anak Indonesia Membaca (GAIM) Daniel M Rosyid. Menurutnya, harus ada revolusi belajar dalam pendidikan itu sendiri. Jika memang ingin berubah, harus dimulai dari sekarang. ”Agar nantinya masyarakat cerdas, sadar dan pintar memilih dalam kancah politik serta pintar menciptakan, bukan membeli.Pintar menulis, bukan menonton. Setelah generasi diperbaiki melalui bahasa maka sistem negara juga akan pulih dengan sendirinya,” tandas Daniel.

Menurutya,saat ini rendahnya tingkat baca masyarakat sudah sangat kritis sehingga untuk pemulihannya, harus dilakukan dengan cara yang ekstrem pula.Penyelesainnya harus dengan kebijakan publik yang mewajibkan membaca. Kepala Pusat Kajian Komunikasi Unair Suko Widodo mengatakan, saat ini sekolah cenderung memfokuskan pada tingkat kelulusan anak saja, dan seringkali mengabaikan pentingnya pendidikan membaca dan menulis pada usia sekolah yang masih dini.Terbukti, banyak guru hanya menggenjot belajar siswa saat mendekati ujian nasional. Fenomena ini diakui terjadi akibat kebijakan sistem pendidikan yang yang tidak mendukung budaya membaca. Sekolah tidak banyak memberi ruang pada anak untuk membaca.

Selain itu, guru sendiri belum bisa dijadikan teladan d a l a m membaca. ”Seharusnya di sekolah anak diwajibkan membaca buku untuk kemudian diminta untuk menceritakannya di depan kelas. Guru juga harus memberi ruang anak untuk berpendapat secara terbuka mengenai apa yang dibacanya,” ujar Suko Widodo. Karena jika tidak, anak nantinya lebih mengutamakan otot daripada otak.Terbukti,kini banyak demonstrasi yang merupakan pertanda ketidakmampuan anak bangsa untuk berkomunikasi dengan baik. Seharusnya, lanjutnya, yang dibudayakan bukan demonstrasi, tapi berdebat.

Karena perdebatan otomatis menuntut seseorang harus belajar dan memahami kasus. Menurutnya, beberapa hal yang harus diupayakan jika ingin berubah. Pertama, harus ada komitmen untuk memperbaiki pendidikan bahasa di Indonesia agar budaya literasi dapat terbangun baik. Kedua, harus ada kebijakan untuk memintarkan warganya. ”Selama ini sistem ujian seperti multiple choice yang sebenarnya menjadi pembodohan terhadap generasi muda karena tak dapat mengungkapkan pendapatnya,hanya bisa memilih dari apa yang sudah tersedia,” ungkap Suko Widodo yang juga dosen di Fakultas Komunikasi Unair ini.

Upaya menumbuhkan minat baca ini pun tak cukup hanya dengan mengembangkan perpustakaan dan buku yang menunjang kebutuhan pembaca. Ketiga, harus ada teladan yang berasal dari aparatur negara dan juga para pendidik di sekolah. (oktalia ary)

Perihal mth
Penikmat masalah-masalah komunikasi dan mendapatkan jatah hidup dari kegiatan dunia komunikasi sekalipun masih butuh waktu banyak untuk belajar mengembangkan diri. Segala sesuatu yang tertulis di sini bukanlah kebenaran mutlak. Silahkan berpikir menurut keyakinan masing-masing dan membiarkan kita berbeda, karena perbedaan itu yang membuat kita ada.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.